Asuhan Keperawatan Anak Preschool dengan ISPA

                                Rabu, 04 Februari 2009

Asuhan Keperawatan Anak Preschool dengan ISPA

A.      Definisi

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah radang akut saluran pernafasan atas maupun bawah yang disebabkan oleh infeksi jasad renik atau bakteri, virus, maupun reketsia tanpa atau disertai dengan radang parenkim paru.

ISPA adalah masuknya mikroorgamisme (bakteri, virus, riketsia) ke dalam saluran pernafasan yang menimbulkan gejala penyakit yang dapat berlangsung sampai 14 hari.

 

B.      Tanda dan Gejala

          Pilek biasa

          Keluar sekret cair dan jernih dari hidung

          Kadang bersin-bersin

          Sakit tenggorokan

          Batuk

          Sakit kepala

          Sekret menjadi kental

          Demam

          Nausea

          Muntah

          Anoreksia

 

C.      Etiologi

Etiologi ISPA lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan jamur. Bakteri penyebabnya antara lain dari genus streptokokus, stafilokokus, pnemokokus, hemofilus, bordetella, dan korinebacterium. Virus penyebabnya antara lain golongan mikovirus, adenovirus, koronavirus, pikornavirus, mikoplasma, herpesvirus.

Bakteri dan virus yang paling sering menjadi penyebab ISPA diantaranya bakteri stafilokokus dan streptokokus serta virus influenza yang di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung.

Biasanya bakteri dan virus tersebut menyerang anak-anak usia dibawah 2 tahun yang kekebalan tubuhnya lemah atau belum sempurna. Peralihan musim kemarau ke musim hujan juga menimbulkan risiko serangan ISPA.

Beberapa faktor lain yang diperkirakan berkontribusi terhadap kejadian ISPA pada anak adalah rendahnya asupan antioksidan, status gizi kurang, dan buruknya sanitasi lingkungan.

 

D.      Penyebaran Penyakit

Pada ISPA, dikenal 3 cara penyebaran infeksi, yaitu:

1.       Melalui areosol (partikel halus) yang lembut, terutama oleh karena batuk-batuk

2.       Melalui areosol yang lebih berat, terjadi pada waktu batuk-batuk dan bersin

3.       Melalui kontak langsung atau tidak langsung dari benda-benda yang telah dicemari oleh jasad renik.

 

E.       Tingkat Penyakit ISPA

1.       Ringan

Batuk tanpa pernafasan cepat atau kurang dari 40 kali/menit, hidung tersumbat atau berair, tenggorokan merah, telinga berair.

2.       Sedang

Batuk dan napas cepat tanpa stridor, gendang telinga merah, dari telinga keluar cairan kurang dari 2 minggu. Faringitis purulen dengan pembesaran kelenjar limfe leher yang nyeri tekan (adentis servikal).

3.       Berat

Batuk dengan nafas cepat dan stridor, membran keabuan di faring, kejang, apnea, dehidrasi berat atau tidur terus, tidak ada sianosis.

4.       Sangat Berat

Batuk dengan nafas cepat, stridor dan sianosis serta tidak dapat minum.

F.       Faktor Risiko

Faktor-faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya ISPA:

1.       Usia

Anak yang usianya lebih muda, kemungkinan untuk menderita atau terkena penyakit ISPA lebih besar bila dibandingkan dengan anak yang usianya lebih tua karena daya tahan tubuhnya lebih rendah.

2.       Status Imunisasi

Annak dengan status imunisasi yang lengkap, daya tahan tubuhnya lebih baik dibandingkan dengan anak yang status imunisasinya tidak lengkap.

3.       Lingkungan

Lingkungan yang udaranya tidak baik, seperti polusi udara di kota-kota besar dan asap rokok dapat menyebabkan timbulnya penyakit ISPA pada anak.

 

G.     Pencegahan

Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit ISPA pada anak antara lain:

1.       Mengusahakan agar anak memperoleh gizi yang baik, diantaranya dengan cara memberikan makanan kepada anak yang mengandung cukup gizi.

2.       Memberikan imunisasi yang lengkap kepada anak agar daya tahan tubuh terhadap penyakit baik.

3.       Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan agar tetap bersih.

4.       Mencegah anak berhubungan dengan klien ISPA. Salah satu cara adalah memakai penutup hidung dan mulut bila kontak langsung dengan anggota keluarga atau orang yang sedang menderita penyakit ISPA.

 

H.     Asuhan Keperawatan

1.       Pengkajian

Riwayat kesehatan:

       Keluhan utama (demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan)

       Riwayat penyakit sekarang (kondisi klien saat diperiksa)

       Riwayat penyakit dahulu (apakah klien pernah mengalami penyakit seperti yang dialaminya sekarang)

       Riwayat penyakit keluarga (adakah anggota keluarga yang pernah mengalami sakit seperti penyakit klien)

       Riwayat sosial (lingkungan tempat tinggal klien)

Pemeriksaan fisik à difokuskan pada pengkajian sistem pernafasan

a.       Inspeksi

       Membran mukosa hidung-faring tampak kemerahan

       Tonsil tampak kemerahan dan edema

       Tampak batuk tidak produktif

       Tidak ada jaringan parut pada leher

       Tidak tampak penggunaan otot-otot pernafasan tambahan, pernafasan cuping hidung.

b.      Palpasi

       Adanya demam

       Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher/nyeri tekan pada nodus limfe servikalis

       Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid

c.       Perkusi

       Suara paru normal (resonance)

d.      Auskultasi

       Suara nafas vesikuler/tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru

 

2.       Diagnosa Keperawatan

1)    Peningkatan suhu tubuh b.d proses infeksi

Tujuan  : suhu tubuh normal berkisar antara 36 – 37,5 °C

Intervensi:

a.       Observasi tanda-tanda vital

b.      Anjurkan klien/keluarga untuk kompres pada kepala/aksila

c.       Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan dapat menyerap keringat seperti pakaian dari bahan katun.

d.      Atur sirkulasi udara

e.      Anjurkan klien untuk minum banyak ± 2000 – 2500 ml/hari

f.        Anjurkan klien istirahat di tempat tidur selama fase febris penyakit.

g.       Kolaborasi dengan dokter:

       Dalam pemberian terapi, obat antimikrobial

       Antipiretika

Rasionalisasi:

a.       Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan perkembangan perawatan selanjutnya

b.      Dengan memberikan kompres, maka akan terjadi proses konduksi/perpindahan panas dengan bahan perantara.

c.       Proses hilanganya panas akan terhalangi untuk pakaian yang tebal dan tidak akan menyerap keringat.

d.      Penyediaan udara bersih

e.      Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh meningkat

f.        Tirah baring untuk mengurangi metabolisme dan panas

g.       Untuk mengontrol infeksi pernafasan dan menurunkan panas

 

2)    Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia

Tujuan:

       Klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah pada BB normal.

       Klien dapat menoleransi diet yang dianjurkan

       Tidak menunjukkan tanda malnutrisi

Intervensi:

a.       Kaji kebiasaan diet, input-output dan timbang BB setiap hari.

b.      Berikan makan porsi kecil tapi sering dan dalam keadaan hangat.

c.       Tingkatkan tirah baring

d.      Kolaborasi: konsultasi ke ahli gizi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan klien.

 

Rasionalisasi:

a.       Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori, menyusun tujuan BB dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.

b.      Untuk menjamin nutrisi adekuat/meningkatkan kalori total

c.       Nafsu makan dapat dirangsang pada situasi rileks, bersih, dan menyenangkan.

d.      Untuk mengurangi kebutuhan metabolik

e.      Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi atau kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal.

 

3)    Nyeri akut b.d inflamasi pada membran mukosa faring dan tonsil

Tujuan: nyeri berkurang/terkontrol

Intervensi:

a.       Teliti keluhan nyeri, catat intensitasnya (dengan skala 0 – 10 ), faktor yang memperburuk atau meredakan nyeri, lokasi, lama, dan karakteristiknya.

b.      Anjurkan klien untuk menghindari alergen/iritan terhadap debu, bahan kimia, asap rokkok, dan mengistirahatkan/meminimalkan bicara bila suara serak.

c.       Anjurkan untuk melakukan kumur air hangat

d.      Kolaborasi: berikan obat sesuai indikasi (steroid oral, IV, dan inhalasi, & analgesik)

Rasionalisasi:

a.       Identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok dan untuk mengevaluasi keefektifan dari terapi yang diberikan.

b.      Mengurangi bertambahberatnya penyakit

c.       Peningkatan sirkulasi pada daerah tenggorokan serta mengurangi nyeri tenggorokan.

d.      Kortikosteroid digunakan untuk mencegah reaksi alergi/menghambat pengeluaran histamin dalam inflamasi pernafasan. Analgesik untuk mengurangi nyeri.

 

4)    Risiko tinggi penularan infeksi b.d tidak kuatnya pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun)

Tujuan: tidak terjadi penularan, tidak terjadi komplikasi

Intervensi:

a.       Batasi pengunjung sesuai indikasi

b.      Jaga keseimbangan antara istirahat dan aktivitas

c.       Tutup mulut dan hidung jika hendak bersin

d.      Tingkatkan daya tahan tubuh, terutama anak dibawah usia 2 tahun, lansia, dan penderita penyakit kronis. Konsumsi vitamin C, A dan mineral seng atau anti oksidan jika kondisi tubuh menurun/asupan makanan berkurang.

e.      Kolaborasi pemberian obat sesuai hasil kultur

Rasionalisasi:

a.       Menurunkan potensi terpajan pada penyakit infeksius

b.      Menurunkan konsumsi/kebutuhan keseimbangan O₂ dan memperbaiki pertahanan klien terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan.

c.       Mencegah penyebaran patogen melalui cairan

d.      Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi.

e.      Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan sensitifitas atau diberikan secara profilaktik karena risiko tinggi.

 

 

2 responses to this post.

  1. Posted by ayie on April 14, 2009 at 9:59 am

    omg.thanks yaaaaa…………..

    Balas

  2. Posted by fitry on Desember 2, 2011 at 5:06 am

    mkasih ya.a……….
    tpi klo bsa ditmpilkan dgn patofisiologinya……….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: